Karanganyar, 24 Januari 2026 — Forum Pondok Alumni Gontor (FPAG) menyelenggarakan Musyawarah Nasional (MUNAS) sebagai forum konsolidasi nasional alumni Gontor untuk meneguhkan nilai, arah perjuangan, serta keberlanjutan kaderisasi pesantren. Kegiatan ini dihadiri para tokoh, kiai, dan pengurus alumni dari berbagai wilayah Indonesia, serta menjadi ruang strategis refleksi dan penguatan peran alumni dalam menjaga nilai dasar pendidikan Gontor di tengah tantangan zaman.

MUNAS FPAG secara resmi dibuka oleh Ketua Umum PP IKPM Gontor. Dalam pembukaan tersebut, ditegaskan bahwa forum ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga kesinambungan nilai, visi, dan orientasi perjuangan Pondok Modern Darussalam Gontor melalui peran alumni yang tersebar di seluruh Nusantara.

Dalam salah satu sesi penting, Dr. (H.C.) H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M. menekankan bahwa keberadaan ribuan alumni Gontor merupakan amanah peradaban.
“Seribu Gontor yang ada hari ini bukan sekadar lembaga, tetapi untuk menyampaikan bendera kebenaran kepada seluruh umat,” tegasnya.
Ia juga menegaskan posisi FPAG sebagai bagian dari IKPM Gontor.
“FPAG berada di bawah IKPM Gontor dan tidak berdiri sebagai lembaga legal formal, karena Gontor sendiri dibangun bukan di atas legalitas hukum, tetapi pada kekuatan nilai dan amanah,” ujarnya.

Sementara itu, Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil. mengingatkan bahwa Gontor lahir dari kekuatan gagasan, bukan teori akademik.
“Gontor didirikan dari sebuah ide, bukan dari teori. Karena itu, yang harus diperbanyak adalah pembicaraan tentang nilai, bukan sekadar teknis,” ungkapnya.
Beliau juga menekankan pentingnya kaderisasi dan sentuhan pendidikan yang menyeluruh kepada santri.
“Kalian adalah kader dan pemimpin masa depan. Anak-anak harus disentuh dari semua aspek: moral, psikologis, organisasi, dan kehidupan sosial,” tambahnya.
Dalam pandangannya, Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil. juga menyoroti pentingnya kehadiran tamu di lingkungan pondok.
“Kedatangan tamu di Gontor adalah hal yang sangat penting, karena dari sanalah santri mendapatkan inspirasi dan wawasan luas tentang dunia luar,” tuturnya.

Pandangan strategis juga disampaikan oleh Al Ustadz H. Noor Syahid, M.Pd. yang menekankan kekuatan nilai Panca Jiwa dan motto Gontor sebagai kunci internasionalisasi pesantren. “Panca Jiwa dan motto Gontor mampu menembus batas internasional karena ia adalah ruh, bukan sekadar slogan,” jelasnya.
Beliau juga mengingatkan bahwa lembaga-lembaga di Gontor tidak lahir bersamaan, tetapi tumbuh seiring dengan kematangan sistem dan kaderisasi.
Lebih jauh, Al Ustadz H. Noor Syahid, M.Pd. mengingatkan bahaya pergeseran orientasi pesantren.
“Dari naik-turunnya Tegalsari, kita belajar dua hal: jangan menggeser orientasi kekyaian menjadi kekuasaan, dan jangan melemahkan kaderisasi,” tegasnya.
Beliau juga menyoroti faktor kesejahteraan sebagai tantangan integritas pesantren.
“Turunnya integritas pesantren sering kali berawal dari kesejahteraan keluarga yang kurang diperhatikan. Maka kemenarikan dan kesejahteraan pondok harus terus ditingkatkan,” ujarnya.

Sidang MUNAS dipimpin oleh tiga orang pimpinan sidang, dengan Dr. KH. Ikhwan sebagai ketua pimpinan sidang dan 2 pengurus FPAG lainnya. Agenda juga mencakup penyampaian laporan pertanggungjawaban (LPJ) oleh Ustadz Anang Rikza sebagai bentuk akuntabilitas organisasi kepada seluruh peserta MUNAS.

Kegiatan MUNAS FPAG ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh Al Ustadz H. Noor Syahid, M.Pd., menandai berakhirnya rangkaian musyawarah yang sarat dengan refleksi nilai, penguatan visi, dan peneguhan peran alumni Gontor sebagai penjaga ruh pesantren dan pelanjut estafet perjuangan pendidikan Islam.

Melalui MUNAS ini, FPAG menegaskan komitmennya untuk terus menjadi wadah strategis alumni Gontor dalam menjaga integritas, nilai, dan kaderisasi pesantren, sekaligus memastikan bahwa Gontor tetap menjadi pusat lahirnya pemimpin umat yang berkarakter, berintegritas, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Reporter: Muhammad Idris Ramli Abdul Karim
Reviewer: Muhammad Ainu Rozi
