Jumat, 28 Agustus, 2026

Media Komunikasi Antarkeluarga Pondok Modern

PC IKPM Gontor Madiun...

Madiun, PP IKPM Gontor— PC IKPM Gontor Madiun melalui...

Konsolidasi PP IKPM Gontor...

Brebes, 14 Agustus 2026 — Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga...

Silaturrahim dan Kajian Spesial...

Madiun, 26 Juli 2026 – Pimpinan Cabang Ikatan Keluarga...

Kunjungan Silaturrahim PC IKPM...

Gontor, 11 Juli 2026 – Sebagai rasa cinta PC...

Shalat yang Memperbaiki Hidup

Tanggal:

Bagikan:

Khutbah Jum’at

Khutbah I

   الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَوْضَحَ لَنَا شَرَائِعَ دِينِهِ وَمَنَّ عَلَيْنَا بِتَنْزِيلِ كِتَابِهِ وَأَمَدَّنَا بِسُنَّةِ رَسُولِهِ، فَلِلّٰهِ الْحَمْدُ عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ مِنْ هِدَايَتِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ الْإِنْسَانِ مُبَيِّنًا عَلَى رِسَالَةِ الرّٰحْمَنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ جَمِيْعًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مُوْقِنٍ بِتَوْحِيْدِهِ، مُسْتَجِيْرٍ بِحَسَنِ تَأْيِيْدِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ الْمُصْطَفَى، وَأَمِيْنُهُ الْمُجْتَبَي وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَةِ الْوَرَى. أَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: بِسْمِ اللّٰهِ الرّٰحْمَنِ الرّٰحِيْمِ، وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِِلَّا الَّذِینَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Dari atas mimbar yang mulia ini khatib berwasiat, khususnya untuk khatib pribadi dan umumnya untuk seluruh jamaah sekalian agar selalu menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah berfirman dalam (QS Al-Baqarah 102):

   يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian semua dengan sebenar-benarnya takwa, dan sungguh janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan Islam.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Shalat itu adalah tiang agama. Sama seperti bangunan yang kokoh karena memiliki tiang yang kuat, agama seorang Muslim juga akan menjadi kuat jika ia istiqamah dalam menjalankan shalat. Shalat adalah ibadah utama yang menjadi tolak ukur kesalehan seorang Mukmin.

Karena itu, menjaga shalat adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Allah telah memerintahkan hal ini dalam firman-Nya:

   حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ

“Peliharalah semua shalat fardlu dan salat Wusṭā. Berdirilah karena Allah (dalam shalat) dengan khusyuk.” (QS Al-Baqarah: 238).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya Marahul Labid li Kasyfi Ma’nal Quranil Majid jilid II halaman 218 menjelaskan bahwa ayat tersebut memerintahkan kita untuk menjaga shalat dengan menyempurnakan rukun dan syarat-syaratnya. Dalam penjelasannya, beliau menyebutkan bahwa ada dua makna penting dalam menjaga shalat.

Makna pertama adalah penjagaan yang berhubungan langsung antara hamba dengan Allah. Seakan-akan kepada seseorang yang sedang shalat dikatakan: “Jagalah shalat yang diperintahkan kepadamu, niscaya Allah akan menjagamu karena engkau menjaga perintah-Nya.”   Maksudnya, orang yang menjaga shalatnya dengan baik akan mendapatkan kemuliaan dari Allah. Allah akan menjaganya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Karena shalat adalah bagian dari takwa, dan siapa pun yang menjaga takwanya, Allah akan menjaga kebaikan-kebaikan dalam hidupnya.

Makna kedua adalah penjagaan yang berhubungan antara seseorang dengan shalat itu sendiri. Seolah-olah dikatakan: “Jagalah shalatmu, niscaya shalat itu akan menjagamu.”

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Ada sebuah pertanyaan yang sangat mendasar, namun seringkali luput dari perhatian kita. Pertanyaan yang mungkin pernah bersarang di benak setiap kita:

Mengapa hidup kita terasa begitu berat?
Mengapa rezeki terasa sempit?
Mengapa pernikahan terasa tidak harmonis?
Mengapa pekerjaan terasa tidak berkah?
Mengapa kesehatan sering terganggu?
Mengapa doa-doa terasa lambat dijawab?

Kita sering mencari jawaban ke sana kemari. Konsultasi ke psikolog, ke motivator, ke dukun, ke paranormal. Kita ikuti berbagai seminar, baca berbagai buku, coba berbagai metode. Namun seringkali, jawabannya sangat sederhana, sangat dekat, tetapi kita enggan melihatnya.

Jawabannya ada pada shalat kita. Pada kualitas shalat kita. Pada kekhusyukan shalat kita. Pada kesadaran kita ketika berdiri di hadapan Allah Ta’ala.

Ma’asyiral Muslimin, sidang Jumat yang berbahagia,

Al-Hasan Al-Bashri—seorang tabi’in yang agung, seorang ulama yang dikenal dengan ketakwaannya yang luar biasa—memberikan sebuah pernyataan yang sangat tegas dan membuka mata kita. Beliau berkata:

“بِقَدْرِ مَا تُحْسِنُ صَلَاتَكَ تُحْسَنُ حَيَاتُكَ”

“Sebanyak engkau memperbaiki shalatmu, maka hidupmu akan diperbaiki.”

Subhanallah. Pernyataan ini sangat sederhana, tetapi sangat dalam.

Perhatikan, Al-Hasan Al-Bashri tidak mengatakan:

“Jika engkau memperbaiki shalatmu, mungkin hidupmu akan diperbaiki.”

“Ada kemungkinan hidupmu akan diperbaiki.”

Beliau mengatakan dengan tegas: “Sebanyak engkau memperbaiki shalatmu, maka hidupmu akan diperbaiki.”

Artinya, ada korelasi langsung antara kualitas shalat dan kualitas hidup. Semakin baik shalat kita, semakin baik hidup kita. Semakin buruk shalat kita, semakin buruk hidup kita.

Ini bukan sekadar teori spiritual. Ini adalah fakta yang bisa kita rasakan dan buktikan.

Hadirin yang berbahagia,

Coba kita renungkan bersama. Orang yang shalatnya khusyuk, yang benar-benar merasakan kehadiran Allah dalam shalatnya, biasanya hidupnya lebih tenang, lebih teratur, lebih berkah. Ia tidak mudah stres, tidak mudah panik, tidak mudah putus asa. Ia tahu bahwa Allah bersamanya.

Sebaliknya, orang yang shalatnya asal-asalan, yang tergesa-gesa, yang hatinya melayang ke mana-mana, seringkali hidupnya juga kacau. Ia mudah cemas, mudah marah, mudah kecewa. Ia tidak memiliki ketenangan batin.

Maka jika hidup kita terasa tidak karuan, jika rezeki kita terasa seret, jika masalah datang silih berganti—jangan langsung menyalahkan takdir, jangan langsung menyalahkan orang lain, jangan langsung menyalahkan pemerintah.

Lihatlah ke dalam. Lihatlah shalat kita.

Al-Hasan Al-Bashri melanjutkan pernyataannya dengan sebuah pertanyaan retoris yang sangat menusuk kalbu:

“وَإِذَا سَأَلْتَ عَنْ تَأْخِيرِ رِزْقِكَ، وَتَأْخِيرِ زَوَاجِكَ، وَتَأْخِيرِ عَمَلِكَ، وَتَأْخِيرِ صِحَّتِكَ، فَانْظُرْ إِلَى تَقْصِيرِكَ: هَلْ أَخَّرْتَهَا؟”

“Jika engkau bertanya-tanya mengapa ada penundaan dalam rezekimu, dalam pernikahanmu, dalam pekerjaanmu, dalam kesehatanmu, lihatlah ke dalam shalatmu; apakah engkau menundanya?”

Subhanallah. Ini adalah teguran yang sangat keras, namun penuh kasih sayang.

Al-Hasan Al-Bashri mengajarkan bahwa penyebab penundaan berbagai urusan kita bisa jadi adalah karena kita sendiri yang menunda-nunda shalat.

Kita sering mengeluh:

“Ya Allah, mengapa rezekiku seret?”

“Ya Allah, mengapa aku belum menikah?”

“Ya Allah, mengapa aku belum dapat pekerjaan?”

“Ya Allah, mengapa kesehatanku tidak kunjung membaik?”

Sementara itu, kita sendiri sering menunda-nunda shalat:

Tunda shalat Subuh karena masih ngantuk.

Tunda shalat Dzuhur karena sibuk kerja.

Tunda shalat Ashar karena asyik menonton film.

Tunda shalat Maghrib karena masih di jalan.

Tunda shalat Isya karena masih mengobrol.

Shalat yang seharusnya menjadi prioritas utama, kita jadikan prioritas terakhir. Shalat yang seharusnya menjadi penyejuk hati, kita jadikan beban yang memberatkan.

Maka wajar jika rezeki kita seret. Wajar jika pernikahan kita tertunda. Wajar jika pekerjaan kita tidak kunjung datang. Wajar jika kesehatan kita terganggu.

Karena kita tidak memberikan hak Allah yang paling utama. Kita tidak menghormati waktu-waktu shalat. Kita tidak memuliakan Allah dengan shalat yang khusyuk.

Ma’asyiral Muslimin,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

“وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ”

“Perintahkanlah keluargamu untuk shalat, dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.” (QS. Thaha: 132)

Ayat ini sangat jelas. Allah tidak meminta rezeki kepada kita. Allah-lah yang memberi rezeki kepada kita. Dan salah satu cara untuk mendapatkan rezeki adalah dengan shalat. Bukan shalat asal-asalan, tetapi shalat yang benar, yang khusyuk, yang istiqamah.

Maka jika kita ingin rezeki kita lapang, lapangkanlah shalat kita. Jangan sempitkan waktu untuk shalat. Jangan remehkan shalat. Karena shalat adalah kunci rezeki. Shalat adalah kunci kebahagiaan. Shalat adalah kunci kesuksesan.

Hadirin jamaah Jumat yang dicintai Allah,

Ibnul Qayyim—murid senior Ibnu Taimiyyah, seorang ulama yang ilmunya sangat dalam dan hatinya sangat tajam—memberikan kritik yang sangat pedas terhadap orang-orang yang shalat tetapi hatinya lalai. Beliau berkata:

“تَقُومُونَ فِي صَلَاتِكُمْ بِأَبْدَانِكُمْ، وَتُوَجِّهُونَ وُجُوهَكُمْ إِلَى الْقِبْلَةِ، وَقُلُوبُكُمْ مُوَجَّهَةٌ إِلَى غَيْرِ الْقِبْلَةِ؟ وَيْلٌ لَكُمْ! إِنَّ صَلَاةً لَا تَصْلُحُ أَنْ تَكُونَ مَهْرًا لِلْجَنَّةِ، فَكَيْفَ تَصْلُحُ أَنْ تَكُونَ مَهْرًا لِمَحَبَّةِ اللَّهِ؟”

“Kalian berdiri dalam shalat kalian dengan tubuh kalian, mengarahkan wajah kalian ke kiblat, sementara hati kalian diarahkan ke wilayah yang berbeda? Celakalah kalian! Shalat (kalian) tidak layak menjadi mahar untuk surga, bagaimana mungkin ia layak untuk meraih cinta Allah?”

Subhanallah.

Ibnul Qayyim menggambarkan keadaan banyak orang yang shalat:

Tubuh mereka berdiri di hadapan Allah.

Wajah mereka menghadap Ka’bah.

Namun hati mereka terbang ke mana-mana—ke pasar, ke kantor, ke rumah, ke masa lalu, ke masa depan, ke segala tempat kecuali ke hadirat Allah.

Mereka shalat dengan tubuh, tetapi tidak dengan hati. Mereka shalat dengan lisan, tetapi tidak dengan ruh. Mereka shalat dengan gerakan, tetapi tidak dengan kesadaran. Inilah yang disebut dengan shalatnya orang-orang yang lalai. Shalat yang tidak memiliki ruh. Shalat yang tidak memberikan dampak apa pun bagi pelakunya.

Ma’asyiral Muslimin,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَلَمْ يُكْتَبْ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ، تُسْعُهَا، ثُمُنُهَا، سُبُعُهَا، سُدُسُهَا، خُمُسُهَا، رُبُعُهَا، ثُلُثُهَا، نِصْفُهَا”

“Bisa jadi seseorang shalat, tetapi tidak ditulis untuknya kecuali sepersepuluh dari shalatnya, atau sepersembilan, atau seperdelapan, atau sepertujuh, atau seperenam, atau seperlima, atau seperempat, atau sepertiga, atau separuh.” (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh Al-Albani)

Artinya, pahala shalat kita berkurang sesuai dengan tingkat kelalaian kita. Jika kita lalai sepenuhnya, bisa jadi kita tidak mendapatkan pahala sama sekali.

Hadirin yang berbahagia,

Coba kita bayangkan. Jika kita diundang oleh seorang raja untuk menghadapnya, dan kita datang ke istana dengan pakaian terbaik, tetapi kemudian ketika raja berbicara dengan kita, kita malah melamun, melihat ke luar jendela, memainkan ponsel, atau berbicara dengan orang lain.

Tentu raja akan marah dan mengusir kita.

Apalagi jika yang mengundang kita adalah Allah, Raja di atas segala raja. Tidak sopan jika kita berdiri di hadapan-Nya tetapi hati kita tidak bersama-Nya. Tidak hormat jika kita membaca firman-Nya tetapi pikiran kita melayang ke mana-mana. Tidak pantas jika kita bersujud kepada-Nya tetapi jiwa kita tidak merendah.

Maka sadarlah.

Shalat adalah saat kita menghadap Allah. Shalat adalah saat kita berdialog dengan Allah. Shalat adalah saat kita memohon kepada Allah.

Maka hadirkan hati. Fokuskan pikiran. Rasakan keagungan Allah. Rasakan kebesaran-Nya. Rasakan kehinaan diri.

Niscaya shalat kita akan terasa:

Ringan

Manis

Membahagiakan

Niscaya kita tidak akan merasa berat untuk shalat. Niscaya kita akan rindu untuk shalat. Niscaya kita akan menangis ketika shalat. Inilah shalatnya orang-orang yang dekat dengan Allah. Inilah shalat yang menjadi penyejuk mata Rasulullah. Inilah shalat yang membuat hati menjadi tenang.

Ya Allah, jadikanlah shalat kami sebagai penyejuk mata kami, sebagaimana Engkau menjadikannya sebagai penyejuk mata Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ya Allah, perbaikilah shalat kami, perbaikilah hidup kami, lapangkanlah rezeki kami, mudahkanlah urusan pernikahan kami, berkahilah pekerjaan kami, sembuhkanlah penyakit kami, dan kabulkanlah doa-doa kami.

Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai kesibukan terbesar kami, dan janganlah Engkau jadikan api neraka sebagai tujuan akhir kami.

Hadirin jamaah Jumat yang mulia,

Mari kita akhiri khutbah ini dengan sebuah pesan yang sangat mendasar:

“Sebanyak kita memperbaiki shalat kita, maka hidup kita akan diperbaiki.”

Ini adalah janji Allah melalui hikmah lisan Al-Hasan Al-Bashri. Dan janji Allah pasti benar.

Maka:

Jika hidup kita terasa berat, perbaikilah shalat kita.

Jika rezeki terasa sempit, perbaikilah shalat kita.

Jika pernikahan tidak harmonis, perbaikilah shalat kita.

Jika pekerjaan tidak berkah, perbaikilah shalat kita.

Jika kesehatan terganggu, perbaikilah shalat kita.

Jika doa terasa lambat dijawab, perbaikilah shalat kita.

Karena shalat adalah kunci. Shalat adalah pintu. Shalat adalah jembatan. Dengan shalat, hidup menjadi ringan. Dengan shalat, rezeki menjadi lapang. Dengan shalat, hati menjadi tenang.

Maka mulailah dari sekarang. Sekarang. Jangan tunda.

Demikianlah khutbah singkat pada siang hari ini. Semoga apa yang disampaikan bermanfaat bagi kita semua, dan semoga Allah senantiasa menjadikan kita serta keluarga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang istiqamah dalam menjaga shalat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ. فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، إِتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي، يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا 

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ  

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ 

عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ

Download untuk PDF teks khutbah diatas pada link dibawah ini:

https://drive.google.com/file/d/1F025xQI30sgcFoQ0ellHCPNtlpKmPx09/view?usp=sharing

Ditulis Oleh: Al Ustadz Dharma Armanie, S.Pd

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Lanjutkan membaca

PC IKPM Gontor Madiun Wujudkan Semangat Nisaiyah melalui Creative...

Madiun, PP IKPM Gontor— PC IKPM Gontor Madiun melalui Divisi Keputrian terus berikhtiar merealisasikan amanah Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor yang disampaikan dalam Launching...

PC IKPM Gontor Gresik Gelar Taroyad Antar Marhalah, Pererat...

GRESIK, PP IKPM Gontor— Pimpinan Cabang Ikatan Keluarga Pondok Modern (PC IKPM) Gontor Gresik kembali menunjukkan komitmennya dalam mempererat ukhuwah dan kebersamaan antaralumni melalui...

Semarak 100 Tahun Gontor, Alumni dan Pengurus PC IKPM...

Samosir, PP IKPM Gontor--Dalam rangka memperingati dan mensyukuri momentum bersejarah 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (1926–2026), ratusan alumni beserta jajaran pengurus Pimpinan Cabang...

Jadilah kekuatan untuk menjalin silaturahim

Bergabung bersama kami di PP IKPM Gontor . Anda bisa berkontribusi dalam menjalin silaturahim antarkeluarga pondok modern.