Rabu, 19 Juni, 2024

Media Komunikasi Antarkeluarga Pondok Modern

Pelatihan Fiqih Qurban: Mengembalikan...

Ponorogo, 9 Juni 2024 – Dalam upaya meningkatkan pemahaman...

Pelatihan Fiqh Jenazah: Meningkatkan...

Ponorogo, 19 Mei 2024 – Bidang Pendidikan & Dakwah...

Silaturrahim dan Konsolidasi PP...

Senin, 19 Februari 2024/ 6 Sya'ban 1445, Pimpinan Pusat...

Perkuat Ukhuwwah Jelang Usia...

DARUSSALAM- Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) terkenal dengan alumninya...

Jalan Menuju Cinta Kepada Nabi Muhammad Saw

Tanggal:

Bagikan:

Khutbah Jum’at, 22 September 2023/ 6 Rabiul Awwal 1445

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي رَضِيَ لَنَا الإِسْلَامُ دِيْنًا، فَأَنْزَلَ عَلَيْنَا فِي كُتُبِهِ نُوْرًا مُبِيْنًا. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى جَزِيْلِ نِعَمِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آبَاءِهِ وَإِخْوَانِهِ مِنَ الأَنْبِيَاءِ والـمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَسَائِرِ صَحَابَتِهِ أَجْمَعِيْنَ وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الـمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، وَقَالَ اللهُ تَعَالَى: قُلْ إِنْ كُنتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ .

Kaum muslimin rahimakumullah
Marilah kita bersyukur kepada Allah Swt yang telah menganugrahkan limpahan nikmat kepada kita semua, terutama nikmat iman dan islam. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw beserta keluarga dan para sahabat serta umatnya yang konsisten dengan ajaran Islam hingga hari akhir.
Pada hari Jum’at yang penuh berkah ini, khatib berpesan kebaikan kepada diri pribadi dan para jamaah sekalian untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt, dengan terus berusaha melaksanakan seluruh perintah Allah Swt dan menjahui seluruh larangan-Nya. Semoga Allah Swt selalu memberikan bimbingan dan kekuatan sehingga kita selalu dalam keimanan dan ketakwaan kepada-Nya. Amin.

Kaum muslimin rahimakumullah
Setiap Bulan Rabiul Awwal yang juga dikenal dengan Bulan Maulid, seluruh umat Islam di dunia merasa berbahagia, karena pada bulan ini pada 14 abad yang lalu lahirlah Nabi akhir zaman yang sekaligus penutup para Nabi dan rasul Allah serta sebagai rahmat bagi seluruh alam, yaitu Nabi besar Muhammad Saw.
Sepanjang sejarah kehidupannya, Nabi Muhammad Saw mendedikasikan hidupnya untuk menegakkan agama Allah dan mendidik umatnya. Kepedulian dan kecintaannya kepada umat ditunjukkan hingga akhir hayat, menjelang terpisahnya roh dari jasad yang terlintas dari benaknya hanyalah umatnya, bukan keluarganya, apalagi hartanya.

Bahkan kepedulian dan kecintaan beliau kepada umatnya tidak cukup di dunia saja, namun berlanjut hingga alam akhirat kelak, di padang mashyar kelak beliau akan mencari umatnya yang mencintai dan mengamalkan sunnahnya, kemudian mengumpulkan dan mengajak mereka minum air di telaga Kautsar, dimana saat itu seluruh manusia dalam keadaan kehausan yang sangat. Allah Swt mengabadikan sifat-sifat beliau dalam firman-Nya dalam QS. Al-Taubah [9] ayat 128:

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مِنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالـمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ

Artinya: Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat meningginkan keimanan dan keselamatan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang yang beriman.

Kaum muslimin rahimakumullah
Oleh karena kepedulian dan kecintaan Nabi Muhammad Saw kepada umatnya sungguh sangat luar biasa, di dunia dan akhirat. Maka merupakan kewajiban bagi seluruh umat Islam untuk mencintai beliau.
Mencintai beliau pada hakikatnya adalah mencintai Allah Swt, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Āli ‘Imrân [5] ayat 31:

قُلْ إِنْ كُنتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ.

Artinya: Katakanlah (Muhammad), apabila kalian mengakui mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad) niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Selain itu, kecintaan kepada beliau merupakan bukti kesempurnaan iman seorang muslim. Dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik Ra., beliau bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

Artinya: Tidak sempurna keimanan seseorang sehingga menjadikan aku (Muhammad) lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kaum muslimin rahimakumullah
Ketika kita berbicara tentang cinta kepada Nabi Muhammad Saw, maka tidak cukup hanya dengan perkataan saja, “aku cinta Nabi Muhammad Saw, aku cinta Rasulullah Saw”. Namun harus dibuktikan dengan perbuatan.

Setidaknya ada 5 (lima) hal yang dapat kita lakukan, agar kita dapat mencintai Nabi Muhammad Saw, yaitu:
Pertama, berdoa kepada Allah agar kita benar-benar dikaruniai kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw, tidak hanya sekedar di mulut saja.
Sudahkan kita pernah berdoa agar dikaruniai kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw? Kalau memang tidak pernah, berarti kita hanya mengaku-ngaku cinta di lisan saja, dan bahkan kita sebenarnya menganggap cinta kepada Nabi sebuah hal yang tidak penting, sehingga mengabaikan permohonan kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw.
Kedua, mengenal Nabi Muhammad Saw.
Agar kita dapat mencintai beliau maka kita harus mengenal sejarahnya. Oleh karena, kita sebagai pribadi dan orang tua, wajib hukumnya bagi kita mengenal dan mengenalkan anak-anak kita akan sejarah Nabi Muhammad Saw.
Kalau untuk mengenal atau mengenalkan sejarah Nabi Muhammad Saw saja kita tidak tertarik, bagaimana kita disebut sebagai umat Nabi Muhammad Saw yang cinta kepadanya? Kalau ada yang mengaku cinta, maka dapat dipastikan itu hanya cinta palsu belaka. Naudzubillah.
Ketiga, Mengingat dan meneladani Nabi Muhammad Saw dalam segala aktifitas.
Apabila sudah mengenal, maka selanjutnya adalah mengingat dan meneladani sunnah atau tata cara Nabi Muhammad Saw dalam beraktifitas, agar dapat mencintainya.
Terdapat sebuah ungkapan dalam bahasa Arab “مَنْ أَحَبَّ شَيْئًا أَكْثَرَ ذِكْرُهُ”, artinya “siapa yang mencintai sesuatu, maka ia sering mengingatnya atau menyebutnya.”
Demikian juga apabila kita mencintai Nabi Muhammad Saw, maka ketika makan dan minum, ingat cara beliau makan dan minum dengan tangan kanan, kemudian meneladaninya dengan cara mengamalkan sunnah atau tata cara tersebut dengan makan minum dengan tangan kanan.
Ketika memakai sandal, maka ingat tata cara Nabi Muhammad Saw. yang apabila memakai sandal dimulai dari kaki kanan, kemudian meneladaninya dengan mengamalkan sunnah atau tata cara tersebut dengan memulai memakai sandal dari kaki kanan, dan seterusnya.
Pendek kata, dalam segala aktifitas ingat kepada sunnah atau tata cara Nabi Muhammad Saw, dan kemudian meneladaninya dengan mengamalkannya.
Keempat, bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw.
Agar timbul kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw dan agar kecintaan kita bertambah dan bertumbuh, maka sudah tentu harus selalu mendoakan dan membaca shalawat kepadanya disetiap saat dan waktu. Untuk itu, bagi yang belum terbiasa bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw, mari kita biasakan bershalawat, baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring.
Shalawat selain untuk menimbulkan kecintaan, tapi juga sebagai balas budi atas kebaikan dan keutamaan Nabi Muhammad Saw, sebagaimana yang Allah perintahkan dan wajibkan kepada kita, dalam firman-Nya:

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.


Artinya: “sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawat kalian dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. al-Ahzâb [33] : 56)

Ulama besar Mesir, Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam kitabnya Tafsir al-Munir menjelaskan, bahwa shalawat dari Allah kepada Nabi berarti rahmat dan keridhaan, shalawat dari Malaikat kepada Nabi berarti doa dan istighfar, sedangkan shalawat dari umat kepada Nabinya berarti doa dan penghormatan.
Kelima, mengikuti perintah Nabi Muhammad Saw serta menjahui larangannya. Diantara sekian banyak perintah dan larangan, khatib akan menekankan pada satu hal yang kini mungkin jarang diajarkan di majlis-majlis ilmu, dilupakan, diremehkan bahkan mungkin saja sengaja ditinggalkan oleh umat Islam, yaitu perintah Allah dan Rasulullah kepada umatnya untuk membagi warisan secara syar’i sebagaimana yang telah Allah jelaskan sendiri secara jelas/gamblang, tegas, dan lugas dalam al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat 7, 11, 12, dan 176, serta meninggalkan cara lain selain hukum Islam, seperti membagi warisan secara hukum Perdata, hukum Adat, atau berdasarkan kesepakatan bersama, membagi warisan secara rata antara anak laki-laki dan perempuan, membagi waris kepada bukan ahli waris dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, apabila ada orang yang membagi warisan dengan segaja tidak dilakukan sesuai hukum Islam, padahal ia mengetahui dan memahaminya dengan baik, maka kecintaannya kepada Nabi Muhammad Saw pantas diragukan, bahkan keislamannya pun pantas untuk diragukan.
Kaum muslimin rahimakumullah
Kesimpulannya, untuk dapat mencintai Nabi Muhammad Saw setidaknya ada 5 hal yang dapat kita lakukan yaitu: berdoa/memohon kepada Allah agar dapat mencintainya, mengenalnya, mengingat dan meneladaninya, bershalawat kepadanya, dan mengikuti perintah serta menjahui larangannya.

Demikialah yang dapat kami sampaikan, semoga Allah memberikan kita rasa cinta kepada-Nya dan kepada rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad Saw, serta Allah memasukkan kita semua dalam golongan umat Nabi Muhammad Saw. Aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلبَيَانِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ الله َلِيْ وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلىَ رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ.اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الإِسْلاَمَ وَالـمُسْلِمِيْنَ، وَاهْلِك أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الـمُسْلِمِيْنَ، يَا قَوِيٌّ يَا مَتِيْنٌ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلـمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاً طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلـمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ….أَقِم الصَّلَاةَ !

Achmad Syarifuddin, S.H.I., M.Ag. Khadim Ma’had Darul Muqri’ Super Tahfidz Sidoarjo, Konsultan Warits Islam di Al-Warits Indonesia & Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) Surabaya, serta Ketua FMA Gontor Cab. Surabaya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Lanjutkan membaca

Pelantikan PC IKPM Dumai: Memperkuat Peran Alumni dalam Pengembangan...

Dumai, 14 Juni 2024 - Pada Jumat malam, 14 Juni 2024, yang bertepatan dengan 7 Dzulhijjah 1445 H, Pendopo Sri Bunga Pemerintah Kota Dumai...

Khutbah Idul Adha, 10 Dzulhijah 1445 H Idul Adha :...

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ كُلَّمَا هَلَّ هِلاَلٌ وَاَبْدَرَ اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ صَامَ صَائِمٌ وَاَفْطَرْ...

Pelatihan Fiqih Qurban: Mengembalikan Peran Strategis Masjid di Ponorogo

Ponorogo, 9 Juni 2024 – Dalam upaya meningkatkan pemahaman dan keterampilan pengelolaan ibadah qurban, Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Pondok Modern Gontor (PP IKPM) bekerja...

Jadilah kekuatan untuk menjalin silaturahim

Bergabung bersama kami di PP IKPM Gontor . Anda bisa berkontribusi dalam menjalin silaturahim antarkeluarga pondok modern.