Ditulis oleh Al-Ustadz H. Suwarno T.M., S.Ag. (PP IKPM Gontor Bidang Pendidikan)

تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا
إِنَّ السَّفِينَةَ لَا تَجْرِي عَلَى الْيَبَسِ
“Kamu mengharapkan kesuksesan tetapi kamu tidak menempuh jalannya, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya perahu itu tidak berlayar di daratan.” (Mahfudzat)
Disiplin adalah cara kita menyiapkan diri menjadi pribadi yang kuat. Awalnya memang berat, tetapi jika sudah menjadi kebiasaan maka akan menjadi lebih mudah dan ringan dikerjakan. Disiplin diri menentukan masa depan kita, salah satu hal yang penting dalam keseharian yang mungkin dianggap menyusahkan diri, padahal sebaliknya, yaitu membawa kita ke tujuan yang telah kita harapkan. Setiap waktu selalu penuh dengan disiplin yang ketat. Sering kita termenung, “Mengapa sih disiplin itu diterapkan, bukannya lebih enak jika hidup tanpa disiplin.” Begitu mungkin yang kira-kira terletak dalam pikiran kita.
Disiplin adalah cara kita mengendalikan diri, mengelola waktu, dan mengelola hidup secara lebih baik. Banyak orang pintar di dunia ini, tetapi karena mereka tidak berdisiplin, maka tidak bisa menjadi orang sukses. Disiplin adalah kunci kesuksesan. Dalam hampir setiap sendi kehidupan, yang membuat kita sukses adalah disiplin. Jika kita ingin menjadi penulis hebat misalnya, setiap hari kita mendisiplinkan diri berlatih menulis, menulis, dan menulis. Apa saja silakan ditulis, cerita, artikel, ataupun catatan harian di buku harian kita. Yang penting setiap hari belajar mengekspresikan diri dengan baik. Tidak perlu melihat hasil tulisan kita sekarang, kalau setiap hari berlatih pasti tulisan kita akan bertambah baik dari waktu ke waktu.
Betapa susahnya diri kita untuk bangun pagi-pagi sekali, shalat subuh, mandi, dan mempersiapkan diri untuk keperluan berkarya. Tetapi dengan disiplin yang tinggi, semua itu lama-kelamaan tidak lagi menjadi beban yang berat. Bangun pagi tapi akan menjadi karakter yang membuat kita berbeda dengan orang lain.
Kita selalu ingat di pondok, waktu makan dibuat terbatas harus segera pergi berjamaah ke masjid. Sebelum waktu yang sudah ditentukan, berlari-lari menghindari Bagian Keamanan. Semuanya adalah dalam rangka mendidik kita menjadi orang yang penuh disiplin.
Mengapa pondok mempunyai aturan yang ketat dalam berdisiplin? Itu semua ditujukan agar hidup kita menjadi lebih teratur. Jika kita tidak mampu mendisiplinkan diri sendiri maka kita akan selalu didisiplinkan orang lain.
“Jangan pernah takut dengan disiplin, lakukan dengan ikhlas.”
Lakukan dan hadapi semua aturan dan disiplin dengan penuh kesungguhan. Hanya dengan berdisiplin dan yang baik, hidup kita di masa depan akan menjadi lebih teratur. Marilah berdisiplin diri untuk mendidik menjadi orang-orang besar, orang-orang hebat. Orang-orang besar selalu mendidik dalam disiplin yang tinggi. Kalau dirimu mampu mendidik diri untuk berdisiplin, itu akan menjadi awal kesuksesan hidupmu. Disiplin adalah modal utamanya.
Lakukan dan ikuti semua pekerjaan dengan disiplin dan penuh keikhlasan. Dengan engkau mendisiplinkan diri dengan ikhlas akan lebih memudahkan bagimu menerima proses pendidikan disiplin itu dengan baik.
Dunia luar dan tantangan yang kita hadapi semakin hari semakin keras. Jika kita tidak mendidik diri ini dengan keras, maka kita akan menjadi lemah. Dan orang-orang lemah tidak akan mampu menghadapi tantangan yang keras dan orang-orang hebat. Ingat bahwa pribadi yang tangguh hanya akan dihasilkan oleh pribadi yang besar.
Jika kedisiplinan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, maka kesulitan, tantangan, dan rintangan apa pun akan bisa kita hadapi. Engkau adalah orang tangguh. Jadikanlah disiplin sebagai sarana membuatmu jauh lebih tangguh.
KH. Imam Zarkasyi menyatakan bahwa:
“Senjata kita maju adalah disiplin, bukan ijazah. Segala sesuatu tanpa disiplin maka akan hancur. Berdisiplin tiga bulan itu lebih baik daripada tidak berdisiplin selama setahun.”
Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa:
“Dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat self-discipline yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sukarela, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self-discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka.”
(Ki Hajar Dewantara, Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka, Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disiplin adalah ketaatan atau kepatuhan terhadap peraturan. Erat kaitannya dengan respek dan taat aturan, konsisten dan peduli menghargai waktu. Sedangkan lawan kata disiplin dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ketidakpatuhan atau pembangkangan. Masih menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), membangkang diartikan sebagai tidak mau menurut (perintah), menyanggah, menyelisihi. Maka pembangkang diartikan sebagai orang yang melawan perintah dan aturan.
Sikap disiplin merupakan kesadaran diri yang muncul dari batin terdalam untuk mengikuti dan menaati peraturan-peraturan dan hukum yang berlaku dalam satu lingkungan tertentu ataupun yang dibuat oleh dirinya sendiri yang ditujukan untuk mencapai tujuan tertentu.
Pembiasaan sikap disiplin merupakan faktor penting dalam mendorong, mengendalikan, mengubah, membina, dan membentuk kebiasaan-kebiasaan tertentu meningkat menuju yang lebih baik yang kemudian akan menjadi dasar dari bangunan mentalis kepribadian seseorang.
Seorang muslim dalam menjalani kesehariannya setidaknya selalu berada dalam tiga ruang lingkup kehidupan: ruang lingkup pribadi, ruang lingkup sosial bermasyarakat, dan ruang lingkup sosial bernegara. Dalam ruang lingkup bermasyarakat dan bernegara terdapat ketentuan atau peraturan tertulis maupun tidak tertulis yang harus dipatuhi dan dijalankan.
Misalnya, dalam ruang lingkup bermasyarakat yang termasuk di dalamnya menaati aturan adat budaya setempat, disiplin di lingkungan pekerjaan ataupun di tempat tinggal, di desa maupun di komplek perumahan, ketentuan atau aturan dalam berkeluarga bagi seorang
anak patuh kepada orang tua dan menghormati keluarga lain yang lebih tua, kemudian dalam ruang lingkup bernegara seperti menaati peraturan perundang-undangan, menjalankan hak dan kewajiban sebagai warga negara, dll.
Pondasi dari kedua lingkup yang telah disebutkan di awal adalah disiplin dalam ruang lingkup pribadi, yaitu sebuah aturan atau ketentuan yang dibuat secara sadar berdasarkan nilai-nilai syariat Islam yang mengikat dirinya untuk kemudian dilaksanakan secara istiqomah.
Kedisiplinan seseorang dalam bermasyarakat dan bernegara merupakan hal yang mutlak diperlukan di zaman ini. Lebih dari pada itu, kedisiplinan dalam diri, yaitu mendisiplinkan diri sendiri dengan aturan dan ketentuan yang dirancang sendiri yang tidak menyalahi ruang lingkup masyarakat, negara, dan agama Islam dalam rangka mencapai tujuan tertentu, merupakan dasar dari kualitas diri yang menjadi modal untuk bersaing secara kompetitif dalam dunia profesional saat ini.
Karena dengan mendisiplinkan diri kita dapat berlatih mengelola waktu, mengontrol nafsu, melatih kemampuan, membentuk kebiasaan, dan memprioritaskan kepentingan, yang kemudian akan membuat kita terbiasa mengetahui kepentingan-kepentingan utama yang perlu dipentingkan, yang mana hal ini sesuai dengan ajaran filsafat kehidupan di Pondok Modern Darussalam Gontor yang berbunyi, “Hanya orang penting yang tahu kepentingan.” Maka melaksanakan disiplin dalam segala ruang lingkup merupakan implementasi dan filsafat kehidupan Gontor tentang kepentingan dan menjadi orang penting.
Panca jiwa kemandirian yang sering disebut dengan BERDIKARI (berdiri di atas kaki sendiri) adalah kesanggupan menolong diri sendiri. Dalam artian paling dasar di kehidupan, kemandirian sering dikaitkan dengan materi atau kemampuan finansial yang artinya tidak meminta-minta dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Namun sebelum memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kemampuan untuk menahan diri dari perbuatan meminta-minta, seseorang perlu memiliki pemahaman dan ilmu yang kemudian dapat membentuk pola pikirnya untuk mencapai sebuah kesadaran yang menumbuhkan kemauan kuat untuk melakukan sebuah disiplin dalam rangka mencapai kemandirian.
Menurut dua ulama besar Islam: Ibn Taimiyah dan Imam Ghazali dalam bukunya Majmu Fatawa dan Ihya, beliau berdua bersepakat bahwa sebuah perbuatan bermula dari kemauan yang kuat. Dan kemauan yang kuat bermula dari gambaran atas apa yang dikehendaki oleh diri. Dan gambaran atas apa yang dikehendaki berasal dari ilmu atau pengetahuan yang telah diolah dalam kalbu. Begitu urutannya.
Berkaitan dengan pengolahan ilmu atau pengetahuan dalam kalbu, terdapat hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu ‘Abdullah an-Nu’man bin Basyir r.a., beliau berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas, dan perkara yang haram itu jelas; dan di antara keduanya terdapat perkara syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa menjaga diri dari perkara syubhat itu, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia akan terjerumus dalam perkara haram, seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar kawasan larangan, dikhawatirkan ternaknya akan masuk ke dalamnya. Ingatlah bahwa setiap raja memiliki kawasan larangan. Ingatlah bahwa kawasan larangan Allah adalah segala yang diharamkan-Nya. Ingatlah bahwa di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging; apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya; dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati (kalbu).”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Maka dalam rangka menjadi pribadi yang disiplin, kita perlu mendahulukan urutan dalam menuntut ilmu dan pengetahuan serta kebiasaan bermusyawarah dengan para guru dan orang-orang tua kita dalam berbagai hal urusan yang akan kita hadapi atau kita putuskan. Adanya musyawarah dengan para guru dan orang-orang tua kita adalah dalam rangka menjaga perbuatan yang kita lakukan berada di dalam jalur yang dibenarkan agama serta diharapkan dapat membiasakan kalbu kita menjadi lebih baik.
Dalam rangka membentuk kebiasaan pribadi yang baik, kita perlu menumbuhkan motivasi dalam diri. Menurut bapak Stephen R. Covey, motivasi dalam diri terbagi menjadi dua: ada motivasi reaktif dan motivasi proaktif. Reaktif adalah kita termotivasi karena ada sesuatu dari luar yang merangsang kita untuk bangkit. Motivasi proaktif adalah motivasi yang muncul dari dalam diri. Maka dalam rangka melakukan kedisiplinan dalam diri, motivasi proaktif jauh lebih unggul daripada motivasi reaktif, karena ketika dorongan dari luar tidak ada, maka motivasi reaktif tidak dapat dijadikan sebagai landasan yang kokoh. Berbeda dengan motivasi proaktif yang meskipun tanpa ada dorongan dari luar tetap dapat bangkit dan menjalankan kedisiplinan dalam dirinya. Motivasi proaktif adalah kesadaran kita dalam meraih sebuah cita-cita.
Keberhasilan kita dalam meraih cita-cita, sangat dipengaruhi oleh kedisiplinan diri. Keinginan meraih cita-cita yang tinggi memerlukan usaha yang besar. Karena kebanyakan orang lebih mementingkan rasa malas, ketidakpedulian dan ketidakseriusan. Tetapi kesungguhan dalam menjalankan kedisiplinan yang didasari oleh motivasi yang kuat dan niat yang ikhlas dalam hati, adalah pendorong utama untuk kita berhasil meraih cita-cita.
Sebuat kata mutiara mengatakan bahwa kesuksesan itu mahal harganya, tetapi lebih mahal harga kegagalan. Lebih dari itu, dapat kita pahami bahwa kegagalan adalah pintu menuju kesuksesan. Karena orang yang gagal kemudian berusaha memperbaiki kegagalannya melalui jalan yang lebih baik, maka akan semakin dekat dengan kesuksesan. Oleh karena itu, kegagalan bukan berarti sebuah kesalahan fatal, tetapi sebuah proses menuju kesuksesan, selama kita bisa belajar dari kegagalan tersebut dan terus melangkah maju dengan kedisiplinan diri yang lebih baik dari sebelumnya.
Berbicara tentang kedisiplinan, kita tidak bisa memisahkannya dari kata motivasi dan niat yang kuat dalam diri. Dalam Al-Quran terdapat sebuah ayat yang menegaskan bahwa “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11). Maka kedisiplinan dalam diri adalah langkah awal yang paling penting dalam perubahan menuju kesuksesan. Mari kita biasakan disiplin dalam setiap aspek kehidupan kita, mulai dari hal-hal kecil seperti bangun pagi tepat waktu, menyiapkan kebutuhan sehari-hari dengan rapi dan teratur, hingga hal-hal besar seperti merencanakan masa depan yang lebih baik dengan tekad yang kuat dan usaha yang sungguh-sungguh. Disiplin adalah kunci utama dalam meraih kesuksesan dan mencapai cita-cita yang kita impikan. Semoga kita semua mampu menjalani hidup dengan penuh kedisiplinan dan menjadi pribadi yang tangguh, sukses, dan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Amin.
