Makkah, 19 Mei 2026 — Dalam rangkaian acara Tajammu’ Hujjaj Gontor yang diselenggarakan di Hotel Shafwat Al Sharooq, KH. Hasan Abdullah Sahal menyampaikan refleksi spiritual dan wasiat perjuangan yang sarat makna kepada para jamaah haji keluarga besar Gontor. Tausiyah tersebut menjadi pengingat mendalam tentang hakikat ibadah, tantangan zaman, hingga arah perjuangan santri dan umat Islam.
Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya membangun “rumah sakit ruhani” dalam diri setiap muslim. Menurutnya, manusia harus senantiasa mengobati aspek keislaman, keimanan, dan keihsanan dalam dirinya, serta selalu curiga terhadap kualitas iman dan ibadahnya sendiri. Ia mengingatkan agar ibadah haji yang agung tidak berubah menjadi sekadar ritual formalitas tanpa penghayatan ruhani.
Beliau juga menjelaskan bahwa haji merupakan potret ibadah yang paling sempurna karena menguji seluruh dimensi manusia secara bersamaan, mulai dari fisik, akal, harta, hingga sensitivitas sosial.
KH. Hasan Abdullah Sahal kemudian menyinggung kondisi umat di era modern yang disebutnya sebagai “anomali zaman” (صعب إعرابه), yakni masa ketika batas benar dan salah semakin kabur. Era globalisasi (Englisation), menurut beliau, telah berkembang menjadi tipu daya moral (Iblisation) yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai kebenaran. Di tengah situasi tersebut, pesantren dinilai masih menjadi benteng pertahanan moral dan kejujuran umat.
Beliau turut mengkritik lahirnya “berhala baru” bernama kepentingan. Menurutnya, manusia modern kerap menjadikan keuntungan dan kepentingan pribadi sebagai ukuran halal dan haram: “ما أحلّهُ المصلحةُ فهو حلال، وما حرّمتهُ المصلحةُ فهو حرام”. Akibatnya, banyak manusia kehilangan kepekaan spiritual hingga menjadi “صمٌّ بكمٌ عميٌ” serta jatuh dalam kehinaan jiwa (ظلة والمسكنة) karena terputusnya hubungan hablumminallah dan hablumminannas.
Menjelang usianya yang ke-79 tahun pada 24 Mei 2026, beliau menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menjalani setiap amal dengan kesungguhan total. Ia mengajak seluruh jamaah untuk shalat, berpidato, dan berhaji layaknya seorang yang sedang menjalankan “shalat perpisahan” (صلاة مودّع), seolah-olah itulah kesempatan terakhir dalam kehidupan.
Beliau juga mengingatkan agar umat tidak membiarkan masjid menjadi sepi hanya karena fanatisme golongan dan perpecahan dalam persoalan hisab maupun rukyat akibat hilangnya semangat ukhuwah Islamiyah.
Dalam kesempatan tersebut, beliau kembali menegaskan falsafah pendidikan Gontor yang diwariskan oleh KH. Ahmad Sahal pada era 1970-an, yakni lima karakter utama kader Gontor:
Berbudi Tinggi
Berbadan Sehat
Berpengetahuan Luas
Berpikiran Bebas
Berjiwa Besar
Beliau menjelaskan bahwa pendidikan di Gontor tidak dibangun di atas formalitas ijazah, melainkan melalui proses ujian dan pembentukan karakter. Santri diajarkan memiliki shibghah (identitas), tampil apa adanya, tidak meminta dihormati, namun tumbuh menjadi pribadi yang benar-benar terhormat.
KH. Hasan Abdullah Sahal juga mengingatkan para santri agar tidak hanya mengejar urusan duniawi. “Ke Gandu silakan, tetapi jangan lupa menengok ke arah ukhrawi,” ujarnya. Rasa percaya diri (ياهَنّو يا هَنّو), menurut beliau, harus disertai kualitas dan bobot pendidikan yang nyata.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa Gontor memiliki maziyyah (مزية) sebagai keunggulan sekaligus mizah (ميزة) sebagai karakter pembeda. Karakter pesantren sejati, menurut beliau, adalah mengembangkan kekuatan dan menutupi aib. Ironisnya, zaman sekarang justru sering menutupi kebaikan Islam dan pesantren, namun membuka lebar-lebar kekurangannya.
Mengenai kepemimpinan, beliau menegaskan bahwa gelar “kyai” bukan sekadar klaim pribadi, melainkan lahir dari pengakuan masyarakat dan adanya ekosistem pendidikan yang nyata. Seorang pemimpin sejati adalah mereka yang diakui dan dicintai rakyat atau santrinya, begitu pula sebaliknya.
Di akhir tausiyahnya, beliau menyampaikan optimisme perjuangan dengan mengambil pelajaran dari Perang Uhud. Meski Islam pernah mengalami kekalahan secara lahiriah, Rasulullah SAW tetap menunjukkan optimisme terhadap kemenangan kebenaran. Beliau membacakan hadis Nabi SAW:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ عَمْرٍو، مَوْلَى الْمُطَّلِبِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ـ رضى الله عنه ـ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم طَلَعَ لَهُ أُحُدٌ فَقَالَ ” هَذَا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ، اللَّهُمَّ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ، وَإِنِّي حَرَّمْتُ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا ”.
Dari Anas bin Malik RA, ketika Gunung Uhud tampak di hadapan Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Ini adalah gunung yang mencintai kami dan kami mencintainya. Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan Makkah sebagai tanah suci, dan aku menjadikan Madinah sebagai tanah suci di antara dua gunungnya.”
Melalui pesan tersebut, KH. Hasan Abdullah Sahal menegaskan bahwa kebenaran pada akhirnya akan tetap menang. Demikian pula perjuangan pesantren, kyai, dan para santri dalam menjaga nilai-nilai Islam.
Reporter: Staf PCI IKPM Gontor Madinah
Reviewer: Muhammad Irham Al Qathani (Staf PP IKPM Gontor)
